Seni untuk Bersikap Masa Bodoh di Soal Manajemen Bisnis
10 tahun lalu, seorang konsultan manajemen pernah memberikan saya satu pelajaran yang sampai sekarang masih saya ingat betul.
Do the Right Things vs Do the Things Right
Keduanya seolah mirip, cuma dibolak-balik. Tapi sebetulnya filosofinya jauh berbeda.
Do the right things berarti melakukan hal-hal yang penting yang dibutuhkan oleh keberlangsungan bisnis. Kita fokus pada hal-hal yang harus kita lakukan supaya bisnis bisa tetap bernapas, misalnya menambah keran pemasukan, memperluas networking untuk memperlebar celah potensi pemasukan, negosiasi dan lobbying supaya kita bisa mendapatkan bahan baku yang lebih murah agar margin yang diambil untuk mengoperasikan bisnis bisa lebih besar, dan semua hal yang dibutuhkan untuk mendukung melebarnya cadangan uang bagi bisnis kita. Beberapa orang mungkin akan mendebat saya karena bisnis itu seharusnya lebih dari uang, bisnis itu juga visi, aktualisasi diri, dampak sosial. But let save that for later.
Sedangkan do the things right berarti memastikan bahwa semua yang dikerjakan di bisnis kita adalah benar. Sebagai leader, do the things right berarti kita memastikan bahwa aspek day to day operation adalah sesuai dengan standar kita. Kita lah yang mengerjakan semuanya dari nol. Rasa butuh kontrol seperti ini sebetulnya sangat bisa dimaklumi. Karena:
- Sebagai leader, keberadaan sebuah bisnis adalah kebanggaan kita. Bisnis adalah perwujudan dari eksistensi kita. Maka wajar jika kita merasa kalau kita harus memastikan bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh bisnis kita adalah benar.
- Sering pula kita dikecewakan, karena ketika aktivitas bisnis didelegasi ke orang lain, hasil kerja mereka seringkali tidak sesuai dengan standar kita.
Tapi, satu hal yang harus kita terima sebagai manusia adalah waktu kita yang terbatas.
Dalam satu hari, kita cuma diberi 24 jam, belum dipotong waktu tidur, dan belum pula dipotong waktu work-life balance yang berarti harus ada alokasi waktu untuk mengistirahatkan mental. Di bisnis, kita harus selalu bersiap dengan skenario terburuk. Ketika bisnis gagal, bukan berarti well-being diri kita dan sekitar kita juga harus gagal.
Maka, kita harus memahami bahwa kita tidak boleh dzolim terhadap waktu.
Di sinilah kemudian kentara jelas perbedaan antara leader dan manager. Leader perlu do the right things. Sedangkan manager, do the things right.
Kedua peran ini tidak boleh hilang dari bisnis, apalagi terbaur. Para leader harus bisa mendelegasikan peran pada manager mereka, belajar memaklumi kesalahan kecil yang tidak fatal yang mungkin terjadi di day to day operation yang sedikit melenceng dari standar Anda, dan menjadi lebih berorientasi pada hasil daripada berorientasi pada proses. Dan para manager, mereka perlu memahami bahwa paycheck mereka berasal dari terwujudnya visi leader, sehingga mereka harus bisa merancang day to day operation yang perfectly seamless.
Pilih yang harus dan penting untuk dilakukan. Lakukan aktivitas yang benar-benar seharusnya jadi prioritas.



Comments
Post a Comment